KOMUNIKASI PEMBANGUNAN (SUMADI DILLA)
Komunikasi
Pembangunan Humanistik
Komunikasi pembangunan yang humanistic menuntut dialog
pihak-pihak yang punya gagasan pembangunan dengan subjek pembangunan. Istilah
subjek pembangunan perlu di tekankan untuk menggantikan istilah sasaran
pembangunan yang selama ini kita konseptualisasikan sebagai pihak (rakyat)
pasif yang harus selalu menuruti kemauan pemerintah. Dalam konteks ini, dialog
mencerminkan kesediaan untuk mendengarkan rakyat, kesediaan untuk mengasumsikan
bahwa rakyat setara dengan pihak yang ingin memberdayakan mereka, apakah itu
pemerintah (daerah), penyuluhan, atau LSM. Harus disadari bahwa rakyat sebagai
subjek pembangunan adalah manusia yang juga punya jiwa, kehendak bebas untuk
memilih, bahkan menolak sehingga mereka juga membutuhkan pengertian seperti
nilai-nilai budaya yang mereka anut, keingina, aspirasi, harapan, kepentingan,
cita-cita, ketakutan, dan kekhawiran yang mereka rasakan. Dalam konteks
komunikasi pembangunan yang humanistic, dialog mensyaratkan bahwa pemerintah,
penyuluh, LSM, atau pemrakarsa pembangunan lainnya menempatkan diri sebagai
pengambil peran yang baik untuk memahami berbagai makna dalam semesta simbolik
rakyat, seberapa pentingpun gagasannya sendiri kepada rakyat, seberapa
pentingpun gagasan tersebut menurut pikiran pemrakarsa.
EKSISTENSI KOMUNIKASI
PEMBANGUNAN
Kompleksitas permasalahan pembangunan seperti social,
ekonomi,politik, dan budaya telah menyeret kegiatan pembangunan menjadi sebuah
fenomenal social yang membutuhkan penanganan dan perlakuan yang komprehensif
dan efektif sehingga komunikasi pembangunan mampu memainkan peran terhadap
jenis dan bentuk perubahan dan pembangunan masyarakat, bangsa dan Negara.
Secara konseptual, teori komunikasi digunakan untuk menjembatani arus informasi
(ide, gagasan) baru, dari pemerintah kepada masyarakat ataupun sebaliknya.
Sedangkan untuk teori pembangunan digunakan sebagai karakteristik bentuk
perubahan yang diinginkan secara terarah, dan progresif, dari satu kondisi ke
kondisi yang lain, atau dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih baik.
Komunikasi pembangunan juga dipandang sebagai instrumen kunci dalam
menggambarkan, mendorong, mengarahkan, mempercepat, dan mengendalikan setiap
perubahan dalam pembangunan.
Persoalan pembangunan masyarakat yang terjadi di
Negara-negara berkembang, di anggap belum membawa masyarakat keluar dari
permasalahan hanya karena aspek komunikasinya belum dikelola secara efektif.
Untuk itu, diperlukan upaya serius sebagai solusi alternative dari berbagai
bidang, aspek, dan konsep, termasuk ilmu komunikasi sendiri. Dengan demikian
pemerhati, perencana, dan pelaku pembangunan termasuk mahasiswa mampu
menganalisis interelasi komunikasi dan perubahan termasuk hambatan dan kendala
yang muncul baik itu menyangkut organisasi pesan, bentuk komunikasi, pemilihan
media, maupun mode komunikasi. “suatu perubahan bisa jadi bukan disebabkan
komunikasi dan juga tidak selamanya tidak relevan dengan perubahan (Rogers,
1985)”.
POTRET PEMBANGUNAN DI
INDONESIA
Di Indonesia, hasil pembangunan belum memperlihatkan
perkembangan signitifikan bagi kebutuhan rakyat banyak, sejak orde baru hingga
era reformasi, pergeseran pendekatan pembangunan yang menyebabkan permasalahn
krusial pembangunan belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah,
proses pembangunan yang dilakukan lebih kuat diwarnai oleh perspektif politik
dan ekonomi daripada perspektif social budaya sehingga adanya usaha mobilitas
masyarakat dalam memanfaatkan sumber-sumber potensi local untuk kepentingan politik
tertentu. Masyarakat dipandang sebagai modal pembangunan, bukan sebagai mitra
pembangunan karena proses pembangunan yang dilaksanakan tidak memberikan ruang
atau peluang bagi terwujudnya inisiatif dan kreatifitas masyarakat sehingga hal
tersebut dapat menitik beratkan pada pembangunan manusia dan seluruh rakyat
semakin jauh dari harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar