Rabu, 02 November 2016

KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

    KOMUNIKASI PEMBANGUNAN (SUMADI DILLA)


Komunikasi Pembangunan Humanistik
Komunikasi pembangunan yang humanistic menuntut dialog pihak-pihak yang punya gagasan pembangunan dengan subjek pembangunan. Istilah subjek pembangunan perlu di tekankan untuk menggantikan istilah sasaran pembangunan yang selama ini kita konseptualisasikan sebagai pihak (rakyat) pasif yang harus selalu menuruti kemauan pemerintah. Dalam konteks ini, dialog mencerminkan kesediaan untuk mendengarkan rakyat, kesediaan untuk mengasumsikan bahwa rakyat setara dengan pihak yang ingin memberdayakan mereka, apakah itu pemerintah (daerah), penyuluhan, atau LSM. Harus disadari bahwa rakyat sebagai subjek pembangunan adalah manusia yang juga punya jiwa, kehendak bebas untuk memilih, bahkan menolak sehingga mereka juga membutuhkan pengertian seperti nilai-nilai budaya yang mereka anut, keingina, aspirasi, harapan, kepentingan, cita-cita, ketakutan, dan kekhawiran yang mereka rasakan. Dalam konteks komunikasi pembangunan yang humanistic, dialog mensyaratkan bahwa pemerintah, penyuluh, LSM, atau pemrakarsa pembangunan lainnya menempatkan diri sebagai pengambil peran yang baik untuk memahami berbagai makna dalam semesta simbolik rakyat, seberapa pentingpun gagasannya sendiri kepada rakyat, seberapa pentingpun gagasan tersebut menurut pikiran pemrakarsa.
EKSISTENSI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
Kompleksitas permasalahan pembangunan seperti social, ekonomi,politik, dan budaya telah menyeret kegiatan pembangunan menjadi sebuah fenomenal social yang membutuhkan penanganan dan perlakuan yang komprehensif dan efektif sehingga komunikasi pembangunan mampu memainkan peran terhadap jenis dan bentuk perubahan dan pembangunan masyarakat, bangsa dan Negara. Secara konseptual, teori komunikasi digunakan untuk menjembatani arus informasi (ide, gagasan) baru, dari pemerintah kepada masyarakat ataupun sebaliknya. Sedangkan untuk teori pembangunan digunakan sebagai karakteristik bentuk perubahan yang diinginkan secara terarah, dan progresif, dari satu kondisi ke kondisi yang lain, atau dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih baik. Komunikasi pembangunan juga dipandang sebagai instrumen kunci dalam menggambarkan, mendorong, mengarahkan, mempercepat, dan mengendalikan setiap perubahan dalam pembangunan.
Persoalan pembangunan masyarakat yang terjadi di Negara-negara berkembang, di anggap belum membawa masyarakat keluar dari permasalahan hanya karena aspek komunikasinya belum dikelola secara efektif. Untuk itu, diperlukan upaya serius sebagai solusi alternative dari berbagai bidang, aspek, dan konsep, termasuk ilmu komunikasi sendiri. Dengan demikian pemerhati, perencana, dan pelaku pembangunan termasuk mahasiswa mampu menganalisis interelasi komunikasi dan perubahan termasuk hambatan dan kendala yang muncul baik itu menyangkut organisasi pesan, bentuk komunikasi, pemilihan media, maupun mode komunikasi. “suatu perubahan bisa jadi bukan disebabkan komunikasi dan juga tidak selamanya tidak relevan dengan perubahan (Rogers, 1985)”.
POTRET PEMBANGUNAN DI INDONESIA

Di Indonesia, hasil pembangunan belum memperlihatkan perkembangan signitifikan bagi kebutuhan rakyat banyak, sejak orde baru hingga era reformasi, pergeseran pendekatan pembangunan yang menyebabkan permasalahn krusial pembangunan belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah, proses pembangunan yang dilakukan lebih kuat diwarnai oleh perspektif politik dan ekonomi daripada perspektif social budaya sehingga adanya usaha mobilitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber-sumber potensi local untuk kepentingan politik tertentu. Masyarakat dipandang sebagai modal pembangunan, bukan sebagai mitra pembangunan karena proses pembangunan yang dilaksanakan tidak memberikan ruang atau peluang bagi terwujudnya inisiatif dan kreatifitas masyarakat sehingga hal tersebut dapat menitik beratkan pada pembangunan manusia dan seluruh rakyat semakin jauh dari harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar